Konsep-konsep pembangunan yang dikembangkan dan dipraktekkan sampai saat ini terus menarik untuk dikaji. Hal ini tidak lain karena kehidupan sosial masyarakat yang selalu berubah. Karenanya, melakukan refleksi atas konsep-konsep pembangunan yang telah ada adalah suatu keharusan. Konsep pembangunan tidak bisa sekadar memperhatikan ekonomi, tapi juga harus memperhatikan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development), yang meletakkan dimensi ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan hidup pada level yang sama. Kemudian lahir pula konsep Pembangunan Bertumpu pada Manusia (Human Based Development) dengan strategi Pembangunan Bertumpu pada Masyarakat (Community Based Development), yang berorientasi pada upaya meningkatkan kemampuan otonomi manusia.
Melihat sampai dewasa ini praktek pembangunan di Indonesia masih menempatkan dimensi ekonomi sebagai hal terpenting dan bahkan cenderung meminggirkan dimensi-dimensi pembangunan lainnya (sosial, politik, budaya, dan lingkungan hidup), maka wajar jika muncul pertanyaan bernada sangsi dari sebagian besar masyarakat kita tentang masa depan bangsa ini. Salah satu pertanyaan yang bisa diutarakan misalnya adalah ”Apa-apa saja yang telah dicapai oleh bangsa ini dalam kehidupannya sebagai bangsa yang berbudaya?” Pertanyaan ini patut dimunculkan mengingat pembangunan yang hanya berorientasi pada masalah ekonomi telah mengaburkan jati diri bangsa ini.
Sehubungan dengan itu, maka dirasa sangat perlu jika kami—para akademisi—di Program Magister Studi Pembangunan, ITB, mangajak sebagian perwakilan masyarakat, wakil pemerintah kabupaten/kota dan propinsi, para praktisi film dan pengamat seni, budaya dan politik, para wartawan dan produser untuk terlibat dan berpartisipasi dalam acara diskusi sehari tentang ”Pembangunan Budaya Bangsa Melalui Media Film”.
Pembangunan budaya bangsa yang hendak kami bidik tak hanya meliputi film sebagai karya seni, tapi juga mencakup bagaimana film mempengaruhi perilaku masyarakat, dan karena insan perfilman juga merupakan bagian dari masyarakat, bagaimana masyarakat mempengaruhi film.
Pemilihan film sebagai media dilakukan karena film merupakan salah satu produk budaya. Melalui film dapat disimak kondisi dan perkembangan kebudayaan suatu masyarakat pada horizon waktu tertentu. Seperti yang diungkapkan Raymond William, film adalah produk budaya yang berusaha memetakkan khazanah intelektual dan artistik dari si pembuatnya—lebih sering disebut ‘the Arts’ (kesenian). Sebagai salah satu produk budaya (yang tidak bebas nilai dan tidak netral), film merupakan sebuah teks. Teks tersebut dapat diinterpretasikan secara bebas oleh pemirsa. Melalui hal inilah sebuah nilai yang termuat dalam film dapat men-trigger pikiran pemirsa. Lebih jauh lagi, film bukanlah produk budaya yang bersifat pasif, melainkan aktif. Film memiliki daya pengaruh, baik terhadap proses rekontruksi budaya maupun pada proses destruksi budaya suatu masyarakat. Dalam konteks ini, film sangat berperan dalam character building of nation.
Karena itu, mendiskusikan film sebagai media dalam pembangunan budaya bangsa Indonesia dewasa ini, menjadi penting. Dalam mendiskusikan film sebagai media dalam pembangunan budaya, aspek sejarah tidak bisa ditinggalkan. Dengan memahami sejarah film (industri film) dari masa ke masa (Orde Lama ? Orde Baru ? Reformasi ? Pasca Reformasi) kita dapat mengambil banyak pelajaran darinya; dinamika film (industri film) sebagai salah satunya. Pelajaran dari sejarah inilah yang dapat dijadikan basis informasi bentuk film (industri film) yang bagaimana yang mestinya dapat kita konstruksi atau kita cita-citakan di masa depan. Berbicara tentang film dan pembangunan budaya bangsa, kita juga berkesempatan menengok dan menelaah apa-apa yang merupakan beyond the movie dari sebuah film (industri film). Ada banyak pertanyaan yang dapat diajukan dan ditelusuri jawabannya melalui forum diskusi ini. Dan dengan melibatkan berbagai kalangan, yang tentunya terlibat dan concern mengamati film dan pembangunan budaya, diharapkan banyak wacana dengan beda perspektif dapat dimunculkan untuk dipahami bersama. Perbedaan-perbedaan argumentasi, pandangan dan apapun itu, adalah sebuah kewajaran dan sekaligus penting bagi pengayaan dan mengkayakan pengetahuan dari sebuah proses belajar.
Diskusi yang akan berlangsung pada tanggal 28 Agustus 2007 di Aula Timur ITB ini akan diikuti oleh dua belas (12) narasumber yang terlibat dan yang concern mengamati film (industri film) nasional dan pembangunan budaya bangsa Indonesia dengan beragam latar belakang, baik dari pelaku film (aktor, produser, sutradara, penulis skenario), budayawan, pemerintah maupun akademisi, yaitu:
1.Insan film sekaligus pengamat budaya (Garin Nugroho, Slamet Raharjo)
2.Wakil produser film televisi (Raam Punjabi/Chand Parwez*)
3.Kaum akademisi/budayawan (Dr. I. Bambang Sugiharto)
4.Pengamat/pelaku film (Andy F. Noya/Edna C.P*, Ariani Darmawan)
5.Wakil pemerintah (Wakil Pemkot Bandung, Wakil Pemprop Jabar, wakil Depbudpar*)
6.Anggota legislatif (Angelina Sondakh/Dede Yusuf)*
7.Wakil MFI (Joko Anwar, Abduh Azis)
Jumlah audience dibatasi sebanyak 150 orang dan sifatnya undangan, dengan maksud diskusi dapat berlangsung secara kondusif sehingga output yang diinginkan tercapai. Target audience diskusi adalah:
a.Komunitas Indie
b.Budayawan
c.Praktisi film
d.Pemerintah
e.Mahasiswa
f.Wartawan
g.Forum Film Bandung
Tujuan diselenggarakannya diskusi ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang:
1.Keterkaitan film dengan budaya
2.Pembangunan budaya bangsa Indonesia melalui film,
3.Fenomena sosial dalam media audio-visual, dan
4.Perkembangan film (industri film) nasional sampai saat ini dan kemungkinannya di masa datang.
Diskusi ini akan membahas dan mendiskusikan secara kritis isu-isu berikut ini:
1.Pengaruh film, Character Building, Degradasi Budaya,
2.Keragaman/multikultur budaya di Indonesia, Strategi Budaya
3.Film dari Masa ke Masa (dinamika film, kreatifitas dan inovasi perfilman),
4.Regulasi Film, Good Governance, Demokrasi,
Pembahasan diskusi ”Pembangunan Budaya Bangsa Melalui Media Film” ini akan dibagi ke dalam dua (2) sesi sebagai berikut:
a) Sesi I membahas tentang: pengaruh film, character building, degradasi budaya, dan keragaman/multikultur budaya Indonesia.
b) Sesi II membahas tentang: film dari masa ke masa (dinamika film, kreatifitas dan inovasi perfilman), regulasi film, strategi budaya, good governance, dan demokrasi
(dalam produksi dan konsumsi).
*) Dalam Konfirmasi
Agenda Diskusi
SESI I; pk 09.00-12.00 WIB
Diskusi pada sesi I akan membahas Pengaruh film, Character Building, Degradasi Budaya, dan Keragaman/Multikultur Budaya Indonesia. Pembicara pada sesi ini adalah Garin Nugroho, Dr. I. Bambang Sugiarto, Andy F. Noya, Abduh Azis (MFI), Raam Punjabi/Chand Parwez, wakil Pemkot Bandung/Pemprop Jabar.
Moderator pada sesi ini adalah Ir. Yasraf Amir Piliang, M.A
SESI II; pk 13.30-16.00 WIB
Pada sesi II akan dibahas beberapa sub tema, yaitu Film dari Masa ke Masa (dinamika film, kreatifitas dan inovasi perfilman), Regulasi Film, Strategi Budaya, Good Governance, dan Demokrasi. Pembicara pada sesi ini adalah Slamet Rahardjo, Joko Anwar (MFI), Ariani/Ronny Chandra, Angelina Sondakh/Dede Yusuf, Perwakilan Depbudpar, Wakil Pemkot Bandung/Pemrop Jabar.
Moderator pada sesi ini adalah Sonny Yuliar, Ph.D. Kedua sesi diskusi ini akan dilangsungkan dalam diskusi panel dengan format semi talk show yang dipandu oleh masing-masing moderator.
KURSUS ANALISIS KEBIJAKAN MENGGUNAKAN MODEL SYSTEM DYNAMIC
Secara periodik, Studi Pembangunan ITB memberikan kursus analisis kebijakan dengan menggunakan model System Dynamics (SD). Sebagai salah satu pendekatan dalam pemodelan kebijakan, metode SD erat terkait dengan pertanyaan-pertanyaan tentang dinamika dari suatu sistem kompleks, yaitu pola tingkah laku yang dibangkitkan oleh sistem itu dengan berjalannya dimensi waktu. Penggunaan metodologi SD lebih menekankan pada tujuan peningkatan pemahaman kita tentang bagaimana suatu perilaku muncul dari struktur sistem di mana suatu kebijakan dibuat dan dilaksanakan.
Proses pembuatan keputusan menyangkut berbagai fenomen yang dinamis yang terdiri dari struktur fisik dan struktur institusional yang saling berinteraksi dalam proses pembuatan keputusan publik. Struktur fisik dibentuk oleh akumulasi (stok) dan jaringan aliran manusia, barang, energi, dan bahan/kapital. Sedangkan struktur insitusional dibentuk oleh akumulasi (stok) dan jaringan informasi yang digunakan oleh berbagai aktor (manusia) dalam sistem tersebut yang merefleksikan kaidah-kaidah proses pembuatan keputusan.
Asumsi utama dalam SD adalah bahwa struktur suatu fenomena merupakan kumpulan (assembly) dari struktur kausalitas yang melingkar dan tertutup (causal loop structure). Ini adalah konsekuensi logis dari adanya kendala-kendala fisik dan tujuan-tujuan sosial yang membentuk perilaku individu dan kelompok. Secara kumulatif, proses ini menghasilkan perilaku yang dinamis dari suatu sistem secara keseluruhan.
Penyelanggaraan kursus SD bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan metode SD yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses analisis dan pembuatan kebijakan. Kursus ini ditujukan bagi mereka yang berperan serta dalam merumuskan, mengkaji, dan merancang instrumen kebijakan. Materi kursus terdiri atas dua bagian, yaitu: (1) teori/diskusi dan (2) praktek pemodelan dengan menggunakan komputer.